Header Ads


Di Shopping Center



Oleh: Dini Safitri

" Neta, ikut mbak Shopping yuk..", ajak Mbak Nela.

Mbak Nela itu, kakak tersayang Neta. Maklum, mereka cuma dua bersaudara. Jadi ya sayangnya ga ketulungan. Dan sifat mereka berdua hampir sama. begitu juga dengan hobi dan kegemaran. Tapi , kalau soal prinsip, Neta dan Nela ambil jalan masing-masing.

" Shopping ?! Hari gini ?! Gimana sih Mbak. Kerjanya ngabisin uang mami and papi terus...Khan masih banyak orang yang menderita, yang butuh uluran tangan kita", jawab Neta sambil berkhotbah.
Hal ini hampir setiap saat Neta lakukan, sejak Neta dapat hidayah untuk pake jilbab. Tapi, walau udah menjadi jilbaber, Neta masih aja centil dan masih hobi jalan-jalan. Terbukti, setelah khotbah panjang lebar, Neta akhirnya menerima juga ajakan Mbak Nela untuk menemani shoping.

" Ya deh, karena yang ngajak shoping, Mba ku tersayang. Apalagi yang kita tunggu. Ayo Mbak..lets go...", lanjut Neta. Mbak Nela menjadi gemes melihat kelakukan adiknya semata wayang.

"Kamu ini, sok ceramahin mbak..eh pada akhirnya...", ujar Mbak Nela gemes.

"Eh mbak, jangan salah, kata Nabi Muhammad Saw, sampaikanlah dari ku, walau satu ayat, jadi...", ujar Neta

"Jadi, sekarang kita shoping...", potong Mbak Nela.
***
Di Tempat Shopping...

" Mbak, sini deh, ini Neta dapet baju yang cocok buat Mbak. Keren deh Mbak..", kata Neta persuasif, kayak penjual baju di Tanah Abang.

" Eh, mana, mana...", sahut Mbak Nela penasaran.

" Itu.., disebelah situ, yang kembang-kembang", seloroh Neta.

" Yang mana? sejauh mata memandang ngak ada..", sahut Mbak Nela.

" Ah Mbak, pas di depan Mbak, ko...", ujar Neta menahan geli.

Barulah Neta sadar, baju yang dimaksud adiknya itu, adalah baju tanpa lengan bermotif bunga-bunga, yang sedang dipakai oleh seorang ibu dengan ukuran baju yang big size.

" Ih, kamu iseng ya..." kata Mba Neta gemes.

" Cocok kan mba..." Neta menimpali.

" Ehm..karena mbak sayang kamu, buat kamu aja deh bajunya..." Ujar Mbak Neta.

" Mana bisa Mbak buat aku, aku kan berhijab. Itu kan lengan bajunyan kan ga panjang mba.." Jawab Neta.

Tiba-tiba Neta terpana, sesosok cowok kece lewat di depannya, wah Robert Pattison aja kalah.
"Net..Neta..Kamu kenapa?", Goda Mbak Nela.

"Ah, ngak papa ko, Mbak", ujar Neta mengelak.

" Udah, jangan ngeles, mbak tahu..kita kan sehati, kesemsem ya, sama yang baru lewat? sayang...Mbak sudah ada Mas Handi", tutur Mbak Nela.

" Ih Mbak, jangan gitu dong...nanti Neta kena penyakit hati. udah ah, jangan dibahas lagi", jawab Neta ngambek.

"Cup...Cup..adik manis, jangan ngambeknya, nanti Mbak beliin permen", jawab Mbak Nela dengan nada meledek.

Tapi jauh dilubuk hati Neta, masih tersimpan rasa harap untuk bisa bertemu.

"Kapan ya bisa ketemu lagi?", gumam Neta dalam hati.

Tapi, hati kecil Neta langsung menegurnya, " Neta, Neta, Inget Net, kamu sekarang jilbaber. Udah beda sama yang dulu, yang masih suka ngecengin cowok-cowok kece. Naudzubillah Net".

Neta pun membalas seruan hati kecilnya, "Tenang hati kecil ku, Neta kan cuma iseng, sambil lewat aja. Toh dunia itu luas, jarang-jarang bisa ketemu lagi dengan orang yang cuma papasan, di mol pula".

Tapi dugaan Neta itu salah.
***
Dua minggu kemudian...

Hari ini, Neta nggak dijemput Pa Syamsul, supir keluarga, karena sedang sakit. Terpaksa Neta pulang naik kendaraan umum. Saat Neta sedang menunggu di halte, lewat segerombolan anak SMU lain, dan mereka ikut menunggu di Halte tersebut, tidak jauh dari Neta.

Neta sebetulnya paling sebel, kalau sudah bertemu dengan gerombolan anak SMU lain tersebut. Dalam hatinya, ia berdoa agar kendaraan umum yang ia ingin ditumpanginya segera datang, dan yang terutama, gerombolan tersebut ga ikut naik kendaraan yang sama.

Sesudah berdoa, Neta memberanikan diri untuk melihat ke arah gerombolan anak SMU tersebut. Sejurus pandang, mata Neta langsung tertuju kepada cowok kece yang pernah ia lihat di Shopping center beberapa minggu yang lalu. Dan ternyata, cowo itu juga sedang melihat kearah Neta. Untuk sesaat, mata mereka saling bertemu pandang. Namun cepat-cepat, Neta mengalihkan pandangan matanya. Sambil ia merasakan bagaimana jantungnya berdegup kencang. Neta berusaha mengendalikan dirinya dengan mengucap istigfar sebanyak-banyaknya.

Sementara itu, Neta juga mendengarkan bahwa gerombolan tersebut tiba-tiba bersorak-sorai. Entah apa yang mereka ucapkan. Neta juga berusaha tidak ingin mendengar apa yang sedang mereka sorakan, apalagi berusaha untuk kepo. Neta hanya minta kendaraan yang ia tunggu segera datang. 

Beruntung bagi Neta, apa yang ia tunggu tak berselang lama, tiba. Dan ia pun naik ke atas kendaraan tersebut, tanpa diikuti gerombolan tersebut. Namun sejurus kemudian, Neta merasakan rasa yang aneh. Ada rasa sedikit menyesal, kenapa harus terburu-buru naik kendaraan. Karena ada rasa ingin untuk lebih lama menatap wajah cowo kece tersebut. Dan kalau tidak salah baca, di bajunya tertulis Ferdi..tapi Ferdi siapa ya, ga kelihatan jelas sih. Namun sekali lagi hati kecil Neta mengingatkannya, "Neta, kegantengan cowok itu, ga ada apa-apanya dengan kegantengan dari Nabi Muhammad dan Nabi Yusuf".

Seiring berlajunya kendaraan yang ia tumpangi, Neta pun larut dengan kepenatan tubuh yang telah terkuras untuk menimba ilmu di sekolah. Tubuhnya meminta ia bersitirahat sejenak, karena perjalanan yang akan ia tempuh cukup untuk melepas penat sejenak.
***
Sore harinya..

" Kenapa Mbak? Muka kok ditekuk dua?" tanya Neta.

" Mas Handi, Net. Kok dia nggak telpon atau chat aku beberapa hari ini. Aku telepon atau chat ga aktif" ujar Mbak Neta melas.

" Gimana ya ka..bukannya ikut sedih, tapi Mbak tahu kan, kalau yang namanya pacaran dalam islam itu kan ga ada. Aku kan dah sering kasih tahu Mbak. Tapi Mbak ngotot aja. Ya gini deh buntutnya. Kita sebagai manusia, ya harus ikut dan percaya kepada aturan Allah. Kalau Allah melarang, pasti karena ada alasanya. Dan semua itu untuk kebaikan siapa? manusia juga kan?!" Celoteh Neta, bak Ustadzah.

" Kamu masih kecil, belum ngerti apa-apa", sahut Mbak Nela.

" Apakah orang yang masih kecil, juga sedikit ilmuya? persepsi Mbak salah. Mbak udah buta, buta karena cinta. Segala kekurangan Mas Handi, Mbak Bela. Mas Handi memang ganteng dan kaya. 

Tapi, apakah sebanding dengan amalnya?" ujar Neta retoris

" Neta, Mbak ga buruh ceramah kamu. Yang mba butuhkan sekarang ini Mas Handi. Bukan ceramah," ujar Mbak Nela.

Neta yang sensitif, langsung lari menuju kamarnya. Sambil menitikan air mata, Neta berdoa, " Ya Allah, bukakan lah, pintu hati Mbak Nela. Berikanlah hidayah Mu. Aamiin".

" Tok...tok..tok..", terdenganr suara ketukan pintu.

" Siapa?", tanya Neta.

" Mami", jawab Mami lembut.

" Masuk Mam, ga dikunci", sahut Neta menghampiri pintu, sambil mengelap air matanya.

" Ada apa sih? ga biasanya kalian ribut.." selidik Mami.

" Mami sama Papi, dulu pacaran?", tanya Neta

" Mm..Mami tahu, kenapa kamu tanya seperti itu. Mami jawab jujur ya. Kalau masa muda Mami dulu, tidak ada yang namanya pacaran seperti sekarang. Mami kenal sama papi itu dijodohkan, dikenalkan dengan keluarga besar, ya ga lama setelah itu, menikah. Jadi, gara-gara itu, kalian bertengkar?" ujar Mami

" Ya Mam. Neta udah jelasin sama Mba Nela, kalau dalam Islam itu ga ada pacaran. Persis seperti yang Mami ceritakan. Tapi Mba Nela ga terima..trus Neta kan orang mudah nangis Mam, kalau udah begini..." tutur Neta..

" Oh begitu masalahnya. Ya karena prinsip orang kan beda-beda, walaupun kakak dan adik. Mami juga ga bisa membenarkan keduanya, karena Mami lebih suka untuk kalian sendiri yang membenarkannya", jawab Mami demokratis.

Memang Mami and Papi Neta itu orang yang demokratis. Sewaktu Neta memutuskan menjadi jilbaber mereka sangat mendukung, walau pun ada pesan dari mereka agar Neta tidak terlalu fanatik. Padahal, kata guru PPKN Neta, fanatik terhadap agama itu harus.
" Gimana Neta? udah ga sedih lagi kan? Mami tinggal dulu ya..",  ucap Mami.
" Iya mi, syukron", jawab Neta.
"Apa itu syukron?", tanya Mami.
"Terimakasih Mi", jawab Neta.
"Oh, kembali, Sayang", ucap Mami.
" Kembali Mi? Sini dong Mi..", kata Neta cengegesan.
Mami hanya tersenyum simpul.
Tak berapa lama, kemudian Mbak Nela dan Neta rukun kembali. Namanya kakak- adik, kalau marahan juga ga ada lima menit.
***
Seminggu ini, Pa Syamsul masih sakit. Jadi Neta selalu pulang dengan kendaraan umum selama itu. Dan selama seminggu ini, Neta juga ketemu sama sang rupawannya Neta. Tapi karena hal itu, Neta jadi tahu dan ga ingin tahu lebih jauh lagi tentang Ferdinand. Karena ternyata Ferdinand berbeda keyakinan dengan Neta. Dibalik seragamnya Ferdinand memakai sebuah kalung yang menunjukan identitas agama tertentu. Neta melihat juga tidak sengaja, sepertinya memang Allah tunjukan hal tersebut dengan kasat mata untuk Neta. Lagi pula, setelah seminggu berlalu, Neta tidak pernah menunggu di halte itu lagi. Dan Neta pun sudah menetapkan hatinya untuk sang rupawan yang lainnya. Dan Neta yakin, untuk sang rupawan nya yang ini, ia bertekad untuk tidak akan pudar memupuk rasa cintanya.

Penasaran siapa orangnya? Kamu bisa temukan di dalam banyak kisah, bagaimana sang rupawan Neta itu ga Cuma rupawan dalam raut wajah, dan bentuk tubuhnya secara fisik, tapi juga rupawan dalam sikap dan tingkah laku. Dan siapa pun kalau jatuh cinta dengan sang rupawan yang ini, ga akan bertepuk sebelah tangan, bahkan dapat perhatian yang lebih dan lebih. Tapi bab itu di skip dulu, Neta mau cerita tentang mba Nela dulu. Sedih sih, tapi mungkin aja ini yang terbaik.

Hubungan Mbak Nela dengan Mas handi juga sudah putus. Mbak Neta akhirnya sadar akan sosok Mas Handi sebenarnya. Ternyata Mas Handi bukan cowok yang setia. Mbak Neta memergokinya jalan dengan perempuan lain yang dulu pernah jadi teman masa kecil mas Handi. Ternyata dunia maya mempertemukan mereka berdua. Sehingga memori masa kecil yang tadinya hanya menjadi kenangan, berubah menjadi kisah nostalgia yang mempersatukan mereka. Aduh cerita novel banget. Tapi itu adalah kenyataan yang harus dihadapi mba Nela.

“ Kalau Mba Nela punya mantan masa kecil ga?” goda Neta.
“ Siapa ya? Mba inget-inget dulu” jawab Mba Nela
“ Udah ah, lebih baik kita shoping aja yuk..” ajak Nela
“ Aduh shoping mulu, lihat-lihat online aja dulu…lagi malas jalan” ujar Neta
“ Justru orang malas itu harus dipaksa, biar ga malas” ledek Mba Nela.
“ Terpaksa ga ya?, ya udah aku tilawah sebentar ya mba, cuma setengah jam. Sambal nunggu mba dandan” ledek Neta.
“ Oke deh..kamu rajin amat tilawah..? ngejar target ya?” ujar mba nela
“Tahu aja…gara-gara ikut grup ODOJ, jadi banyak yang ingetin…kalau dah shoping, nanti ga bakal selesai hari ini..” ujar Neta.
“ ODOJ? Grup apaan tuh?” tanya mba Neta
“ODOJ itu singkatan dari One Day One Juz mba..” jelas Neta
Oh ada ya grup kayak gitu, boleh deh kapan-kapan mba ikutan grup kayak kamu” ujar Mba Nela
“ Emang bisa konsisten?” ujar Neta
“ Bisa ga ya?, tapi kalau ga dicoba siapa yang akan tahu kan?” tangkas Mba Nela
“Iya juga sih.., Neta wudhu dulu ya mba..” papar Neta
Neta pun bergegas ke kamar mandi untuk wudhu dan Nela bergegas membuka lemarinya mencari baju untuk dipakai shoping. Shoping merupakan agenda wajib Mba Nela, tujuan utamanya bukan untuk belanja saja, juga bukan sekadar makan, atau nonton, tapi juga mencari inspirasi dan menghibur diri.
***
“ Udah belum mba dandannya?” tanya Neta
“Bentar.., Udah, Yuk. Pamit dulu sama Mami dan Papi” ujar Neta
Papi dan Mami sedang santai di ruang tengah. Papi sedang membaca buku dan Mami sedang melihat-lihat majalah.
“ Papi, Mami kita mau pergi jalan ke shoping center. Ada yang mau di titip ga? “ tanya Neta
“Eh, kalian berdua mau jalan? Ada ga Pap yang mau di titip?” ujar Mami
“ Mm..ga. Nanti kan kita mau keluar juga Mi..” ujar Papi sambal tetap fokus membaca
“ Oh iya pi.. Mami baru inget. Ya sudah hati-hati ya anak-anak mami yang cantik” tutur Mami.
“ Mau kemana Mi?” tanya Neta
“ Papi mau reuni dirumah teman Papi, kebetulan katanya sekalian ada pengajiannya juga” jelas Mami
“ Oh gitu, Oke deh. Kita Jalan dulu ya Pi, Mi” ujar Neta.
***
Setelah berpamitan mereka berdua pergi shopping. Shopping center adalah tujuan mereka.
“Bakalan ketemu cowo baru buat mba Nela ga ya?” ujar Mba Nela
“Aduh masa cari jodoh di Shopping center Mba? Kalau aku pengennya Mba ketemu jodoh di masjid pas ada pengajian” doa Neta
“ Aamiin” kompak mereka berdua.
“ Atau siapa tahu dari acara reuni, Mami dan Papi dapat kenalan anak temennya buat Mba Nela” goda Neta
“ Ih, kamu ada-ada aja. Tapi itu namanya dijodohin dong..” ujar Mba Nela
“ Ah ga papa Mba, kalau namanya jodoh, mau di jodohin atau cari sendiri, semua bisa-bisa aja”, elak Neta
“ Iya sih. Ya udah, topiknya ganti dulu, kita kan mau ke shopping center” tutup Mba Nela.









No comments

Powered by Blogger.